Selamat datang di YAYASAN PERGURUAN RAKYAT JAKARTA

"SMK PERGURUAN RAKYAT"

SEJARAH SINGKAT PERGURUAN RAKYAT JAKARTA

SEKOLAH NASIONAL PERTAMA DI INDONESIA Berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No.Cb.11/1/12/72, 10 Januari 1972

Perguruan Nasional pertama di Indonesia, itulah Perguruan Rakyat, disingkat PR. Perguruan ini berdiri pada tanggal 11 Desember 1928.

Sudah sejak dini para pejuang kemerdekaan menyadari pentingnya sekolah nasional bagi pembinaan bangsa Indonesia. Yang dinamakan sekolah nasional adalah sekolah yang diselenggarakan oleh Rakyat Indonesia sendiri, dan mengabdi kepada kepentingan Rakyat Indonesia. Ini berlainan dengan sekolah kolonial yang diselenggarakan oleh penjajah, dan mengabdi kepada kepentingan penjajah pula. Itu sebabnya sesudah 20 Mei 1908 --- tanggal berdirinya Boedi Oetomo, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, --- oleh para pejuang banyak didirikan sekolah nasional : Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Institut Boedi Oetomo di Blora (1917), Sekolah Sarekat Islam di Semarang (1921), Sekolah Adhi Dharma di Yogyakarta (1921), National Onderwijs Institut Taman Siswa di Yogyakarta (1922), Ksatrian Institut di Bandung (1923), dan Indonesisch-Nederlandsche School (INS) di Kayutaman (1926). Semua sekolah ini berdiri sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, belum berwatak tegas Nasional, dengan ciri lokal, Sektarian, atau Regional.

Adapun Perguruan Rakyat berdiri 44 hari sesudah Sumpah Pemuda, sebagai realisasi Sumpah Pemuda, dan didirikan oleh para pendukung Sumpah Pemuda yang sebagian ikut serta dalam Sumpah Pemuda pula.

Perguruan Rakyat lahir sebagai gabungan dua (2) organisasi sebelum sumpah pemuda, yaitu Poestaka Kita dan Persatoean Oentoek Beladjar. Yang pertama taman bacaan yang dipimpin oleh Mr. Sunario dan Arnold Mononutu, dan yang kedua kursus bahasa dan jurnalistik yang dipimpin oleh Sudarmo Atmodjo dan Sarah Thaib. Dalam rapat penggabungan tanggal 30 Agustus 1928 (sebelum Sumpah Pemuda) itu dibentuk badan pendidikan bernama Volksuniversiteit (Perguruan Rakyat). Tanggal 11 Desember 1928 (sesudah Sumpah Pemuda dan dengan dijiwai semangat Sumpah Pemuda) Volksuniversiteit atas usul Mr. Moh. Yamin dirombak menjadi Badan Persatoean Pergoeroean Rakjat, disingkat Pergoeroean Rakjat, dikendalikan oleh sebuah badan pengurus dengan Ketua Mr. Dr. Moh. Nazief, Wakil Ketua Mr. Sunario, dan Sekretaris I Arnold Mononutu. Karena ketiga orang ini adalah mantan tokoh Perhimpunan Indonesia yang dikenal sebagai badan nasionalisme Indonesia, maka Perguruan Rakyat pun tak lepas dari kiprah sebagai pejuang kemerdekaan.

Banyak Tokoh gerakan Kemerdekaan mengajar disekolah ini, yang dikemudian hari menjadi tokoh-tokoh terkenal diberbagai bidang --- politik, budaya, sastra, hukum --- Negara Republik Indonesia, seperti Mr. Hindromartono, Dr. Sahardjo, Mr. Moh. Yamin, Mr. Assaat, Mr. Sultan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Amir Hamzah Bungsu, Mr. Maria Ulfah, Mr. Hindromartono, Mr. Teuku Moh. Hasan, Mr. Sumanang, P.F. Dahler (Amir Dahler), Mr. Sutan Moh Rasjid dan masih banyak lagi yang lain.

Juga dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Perguruan Rakyat tidak absen. Dalam Upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, pengerek bendera adalah A. Latief Hendraningrat, Ketua Yayasan Perguruan Rakyat belasan tahun lamanya dan dijaman kolonial sebagai guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah Perguruan Rakyat.

Sementara Sukarni, tokoh yang “menculik” Sukarno-Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok, adalah juga orang Perguruan Rakyat. Karena “Penculikan” tersebut, sidang darurat Panitia Persiapan Kemerdekaan pagi tanggal 16 Agustus 1945 menjadi urung, sedang sidang resmi tanggal 18 Agustus 1945 menjadi batal, karena Proklamasi sudah dikumandangkan sehari sebelumnya, 17 Agustus 1945.

Maka tidak mengherankan, kalau dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Ali Sadikin) tanggal 10 Januari 1972 No. Cb 11/1/12/72, gedung Perguruan Rakyat di jalan Salemba Raya 33, Jakarta ditetapkan sebagai “TEMPAT PENDIDIKAN YANG BERSIFAT NASIONAL YANG PERTAMA KALI”, dan Gedung tersebut dilindungi Undang-undang.

Top